Skincare

Tips Belanja Skincare dan Makeup Agar Tidak Mubazir

Tips belanja makeup dan skincare dari seorang hoarder kayak saya? Layak ga sih dibaca? Jawabannya : saya sebagai penulis berharap layak karena blog ini saya tulis langsung seteah saya membongkar meja rias saya semalam, meja rias yang lebih mirip blackhole! Banyak sekali skincare dan makeup yang saya buang, bahkan serum seharga satu juta lebih yang belum dibuka sama sekali.

Saya adalah seorang pecinta dan petualang skincare sejak tahun 2015 Mulai dari mencoba high end brands sampai drugstore (judulnya drugstore di luar negri, sampai ke indonesia tetep aja kategori harga high end zz). Sebelum tahun 2015 saya setia dengan dokter, dengan budget minimal IDR 500k/bulan, baru krim dan konsul, belum tindakan macam facial.

Tentunya saat peralihan itu saya merasa super enak dong beralih ke brand yang dijual bebas. Misalnya saya di klinik 500k/ bulan, dalam 3 bulan saya akan keluar 1,5 juta. Kalau ditambah tindakan macam facial 350/ bulan, bahkan kadang per dua minggu dengan kondisi kulit saya saat itu. Bisa jadi totalnya dalam 3 bulan saya sudah keluar 2-3 jutaan. Dengan kata lain brand yang dijual bebas terasa lebih hemat karena misal saya keluar untuk serum 1,8 juta, nah itu bisa bertahan paling tidak 6 bulan dengan cara pakai sesuai rekomendasi brand.

Saya tidak bilang di klinik itu buang-buang duit, klinik sangat baik untuk orang dengan kulit bermasalah, setidaknya sampai tahap maintenance karena mencoba skincare yang dijual bebas jauh-jauh lebih banyak keluar uang daripada meminta ahlinya (dokter spesialis kulit dan kelamin) untuk menentukan apa yang dibutuhkan oleh kulit kita yang awam ini.

Jadilah dengan bayangan akan hemat ini saya terbuai. Saya suka sekali membeli serum, apalagi yang digembar-gemborkan oleh para influencer. Mereka tidak salah sih, mereka kan hanya berbagi plus cari nafkah. Yang salah kita, karena tidak punya tameng, tidak punya dasar, tidak mau membaca. Atau kalau dalam kasus saya, terlalu banyak refrensi ingredients bagus, akhirnya merasa harus mencoba semuanya apalagi kalau ada online shop diskon. Padahal diskon ongkir doang.

27356119_1238386689626500_6597995038364501329_o

Jadilah saya beli banyak serum yang konon bagus itu. Sambil berharap “Nanti kalau yang ini habis, saya pindah kesini, terus kesini”. BLAH! Jangan lakukan itu untuk skincare! Kenapa?

Karena kita jadi ga tau mana yang terbaik untuk kulit kita, berdasarkan pengalaman saya, skincare sebagus apapun mulai terlihat efek positif signifikannya setelah sebulan (ada sih yang efeknya dua minggu juga keliatan, tapi rasanya terlalu muluk-muluk kalau kita tidak pantau konsisten sampai sebulan). Bayangkan kalau sebulan habis kita ganti lagi-ganti lagi. Atau ternyata kita cocok banget tapi kita jadi tidak punya budget untuk repurchase karena sudah keburu invest di skincare lain yang saat itu kita kira akan kita pakai. Ini bisa berujung tiga : skincare yang pertama tetap kita repurchase lalu yang kedua harus nganggur sampai kadaluarsa dan akhirnya dibuang. Kebayang ga ngebuang duit 1,5 juta? Dijual lagi dosa kalau kita ga jujur itu kadaluarsa, dipakai lebih seram.

27459422_476109502791094_6741838368208164407_n

Atau pilihan kedua, kita tetap konsisten buka skincare kedua tapi kemudian tidak cocok, akhirnya harus dibuang/preloved; atau ketiga, kita jadi ga bisa menilai seberapa efektif skincare kedua ini karena skincare pertama bagusnya masih nyisa dan ujungnya jadi bingung mau repurchase yang mana.

Tips saya untuk skincare : kenali kulit kita, nah ini jujur sangat tidak murah, karena untuk mengenal kulit kita biasanya kita harus mencoba beberapa skincare dengan bahan aktif yang berbeda. Tapi ya ga hematnya jangan diperpanjang dong, cukup sampai mengenal aja.

Belajar konsisten : Jangan terbujuk rayu! Apalagi oleh sosial media, influencer dibayar untuk mempengaruhi, and that’s totally okay! Because it’s their job. And it’s our job to use our logic. Do we need it? Will it suits our skin? Lah kok jadi bahasa Inggris.

Ya intinya, marketing zaman sekarang udah sadar seberapa besar impact media sosial berupa blog, vlog, IG seeds, IG story sehingga mereka akan jorjoran memaksimalkan aspek-aspek ini.
Dan ini bukan berarti kita harus unfollow semua influencer yang ada di dunia, saya pribadi suka banget foto-foto di IG seeds para influencer karena rapih, kita cuma perlu berpikir butuh atau sekedar terpengaruh?

Pelajari skincare sebelum membeli : Jangan tergiur beli karena packaging atau karena harganya murah. Selalu. Selalu beli barang karena fungsinya. Karena meskipun harga suatu skincare murah, ya itu duit juga, kalau ga dipakai, yang dibuang duit juga. Jadi kalau mau beli dan harganya agak mahal, ASAL DIPAKAI, itu lebih masuk akal. Kalau merasa takut beli mahal dan tidak cocok : Usaha cari trial size deluxe paling tidak yang 7 ml.

Tidak perlu terburu-buru membeli backup : Skincare high end rata-rata harganya ga akan jomplang-jomplang banget meskipun udah diskon kecuali kita lagi lewat di duty free karena biasanya mereka punya value pack yang ada 5 botol harga 3 botol atau semacamnya, nah ini sah sah saja, asal kita tau skincare itu pasti akan kita pakai karena ga ada rencana ganti dalam waktu dekat dan .

Tidak perlu beli langsung dua botol dengan alasan takut kehabisan, kalau judulnya skincare, kita selalu punya spare time kok untuk mecoba dan sadar cocok sebelum beli lagi. Seandainya kita mau standby sebelum isi botol yang kita pakai benar-benar habis, sebaiknya kita beli kira-kira sebulan sebelum benar-benar habis.

Nah kalau skincare memang saya tidak bisa banyak share tipsnya, karena skincare per itemnya saja lebih mahal dari makeup. Setidaknya yang di atas ini pasti bisa diterapkan. Kalau niat.

Lanjut ke makeup.

Lebih banyak makeup daripada skincare yang saya buang tadi malam. BANYAK BANGET. sampai 3 plastik. Dan apakah item terbanyak? Lipstick. LIPSTICK. Mulai dari high end-drugstore. 

Screen Shot 2018-02-07 at 09.43.51

Sumber : https://www.askideas.com/35-most-funniest-make-up-meme-pictures-and-images/

Dulu saya anggap meme ini lucu, sekarang saya malu dan hanya ingin berhenti. Mual membayangkan berapa banyak yang saya buang tadi malam. Bahkan ada yang luxury brand. I really need to stop. 

Menurut saya sebaiknya lipstick itu dibagi : untuk formal, untuk harian. Dan jangan pernah beli yang warnanya sama atau beda satu tone doang. Please, kita harus bener-bener pakai logika kalau sama lipstick. Zaman dulu sebelum sosial media hits memang saya kalap banget kalau ada lipstick nude buat skintone saya yang super golden.

Tapi kalau zaman sekarang rasanya banyak brand yang sudah sadar variasi skintone sehingga warnanya lebih wearable. Dan selama kita masih punya lipstick dengan warna kesayangan tersebut, tidak usah takut akan kehabisan sebelum dapat backup. Karena satu lipstick konvensional yang dipakai setiap hari bisa bertahan 6 bulan bahkan lebih. Dan liquid lipstick bisa bertahan 3 bulan dengan volume 2.5 ml.

Jadi teman-teman, jangan sampai

26240813_1222455081219661_3962051600772000926_o

STOP. Because we don’t need it. We just want it. Meskipun harganya murah. Stop, karena kalau sampai tidak dipakai, yang dibuang itu uang.

Bagaimana dengan foundation?

Foundation saya punya beberapa, suprisingly masih layak pakai semua/ tidak ada yang terbuang karena kadaluarsa. Dan bahkan sudah mau habis.

Untuk foundation kalau kita tipe yang ga tahan untuk ga beli foundation, pertama kita harus tau jenis kulit kita dan kemana foundation tersebut akan kita pakai. Dan undertone kita. Usahakan untuk selalu mencoba tekstur foundation langsung di konter, dan TAHAN untuk tidak membeli sebelum bisa coba langsung. Meskipun influencer yang di sana sudah heboh, yang di sini sudah jungkir balik. Ingat, mereka dibayar. Influencernya mau bule atau mau bangsa indonesia, mereka dibayar.

Beli foundation juga  tidak bisa hanya jalan-jalan ke konter, dipromosiin mbaknya, dicoba di tangan DAN LANGSUNG BELI. No you CAN NOT do it. Kalau saya dan teman-teman, seandainya ragu, Ya kita datang dengan muka polosan atau minimal pake primer andalan, setengah muka kita oles undertone A, setengah lagi B. Kemudian kita harus berani untuk bilang ke BAnya kalau kita mau tes dulu daya tahan dan akan oxidized atau tidak foundation tersebut meskipun nanti BAnya jutek, bodo amat, kalau kita beli mahal-mahal dan ternyata tidak cocok kan yang rugi kita, BAnya mah dapet komisi karena berhasil menjual. Dan memang bukan hak BAnya juga melarang kita test dulu foundationnya beberapa lama, justru kewajiban mereka untuk menjelaskan kelebihan dan kekurangan foundation tersebut. Kalau dia tidak bisa menjelaskan ya sudah, dia tidak menguasai produk, tidak usah merasa tidak enak.

18556660_1226790014119501_2338486483907614547_o

Ini nih kekurangan BA di Indonesia, banyak tidak menguasai produk dan pelit sekali tersenyum. Beda dengan BA Butik kosmetik YSL di Pavilion Kuala Lumpur yang saya kunjungi minggu lalu. Mereka benar-benar friendly dan kerjaannya bukan hanya promo produk baru, tapi benar-benr mencari yang cocok dengan kulit kita meskipun harus ngubek-ngubek laci.

Intinya kalau mau beli foundation kita harus niat untuk mencoba, meskipun harus habis waktu seharian. Daripada beli sejuta, eh ga bisa dipakai sampai habis.

Apa lagi ya? Rasanya kalau makeup untuk saya dua itu yang paling banyak mengeluarkan budget. Bedanya lipstick ini termasuk kebutuhan sangat tersier sedangkan foundation masih bisa masuk kebutuhan primer untuk kategori makeup karena kulit saya tidak bisa kena bedak sebelum dialasi foundation.

Untuk item makeup yang lain :

Tips beli blush on : Beli satu kali palette blush on yang langsung isi 5 warna atau sepuluh warna karena lebih hemat, bisa dikombinasi, tidak rawan bosan. Kalau mau beli per satuan, hindari beli online agar tidak tertipu warna di komputer

Tips beli bedak : Bedak dibagi jadi dua, finishing dan setting. Setting tujuannya sesuai nama : Set, mengeset foundation/ concealer/ krim ditempatnya, setting powder biasanya tidak berglitter, hanya flat matte saja. Sedangkan finishing tujuannya untuk mengarahkan ke finish yang kita inginkan, mulai dari glitter yang subtle sampai sebesar-besar lampu disko. Cara menggunakannya pun berbeda. Setting powder di press-and-roll sedangkan finishing powder kuasnya hanya dilambai-lambai halus agar tidak cakey.

Powder saya punya 3 : satu loose setting powder, satu pressed setting powder untuk saya bawa-bawa di tas, satu finishing powder yang awalnya sempat saya sesali karena tidak mengerti cara pakainya.

Kalau sudah punya tiga itu dan masih ingin beli bedak lagi, fix, mubazir.

Tips beli maskara : Pelajari mau kita dulu, suka yang finish natural atau finish dramatic bold syalala. Beli satu aja, ga usah banyak2, karena maskara meskipun disegel dan disimpan kalau cara penyimpanannya salah, ketika dipakai akan clumpy. Padahal barang aslinya tidak sejelek itu.

Tips beli tools : Tools menurut saya sesuatu yang bisa kita jadikan investasi sih, karena dia tidak akan kadaluarsa dan sangat menentukan hasil makeup juga. Beli brushminimal yang basic. Dan sponge seperti Beautyblender dan Real Techniques sebetulnya sudah sangat lebih dari cukup untuk pemula karena bisa dipakai untuk apply foundation, apply bedak, blush on dll dan gampang sekali dibersihkan. Karena sponge harus lembab untuk dipakai jadi setelah dicuci tidak usah menunggu kering tapi harus diperas sampai lembab, jangan dipakai dalam keadaan basah karena membuat makeup kita patchy.

Okay sekian tulisan saya mengenai tips belanja makeup dan skincare. Mungkin ini masih jauh dari cukup untuk menjelaskan semuanya. Tapi hal-hal ini minimal harus ada di otak kita sebelum belanja.

Tips pastinya : Kalau barang itu tidak kamu butuhkan hari ini, berarti kamu tidak butuh. Jadi ga usah buru-buru dibeli.

See you on my next post! 🙂

Sumber meme qasidah : https://web.facebook.com/pg/qasidahmemes/photos/?ref=page_internal

Iklan
clinique, Drugstore Brand, L'oocitane, Shu Uemura, Skincare

Secuil Review Mengenai Oil Cleanser

Hai! saya kembali lagi, kali ini saya ga akan membahas review produk satu per satu secara detil tapi akan langsung segambreng dan langsung ke bagian-bagian detail.

Di post kali ini saya akan membahas mengenai oil cleanser yang saya pakai dalam 3 tahun terakhir. Ada beberapa tetapi ini tidak semuanya. Yang akan saya bahas di post kali ini adalah yang sering ditanyakan perbandingannya oleh beberapa teman dekat saya.

DSC01316 copy

Continue reading “Secuil Review Mengenai Oil Cleanser”

Lancome, Skincare

Skincare Favorit Saat Ini : Lancome – Advanced Génifique Youth Activating Serum

Kembali lagi bersama saya setelah sekian juta tahun mangkir, bukan karena ga ada ide tulisan… idenya BANYAK banget yang ngantri di kepala, yang sulit didapatkan adalah waktu dan tenaga berhubung lagi hamil anak ke-2.

Jadi beberapa waktu yang lalu saya sempat update di Instastory perihal apa sih yang mau dibahas di blog di tulisan yang akan datang? Apa skincare favorit? Atau makeup on the go alias makeup yang saya bawa buat traveling ke empat kota selama sebulan kemarin? Dari hasil polling yang menang adalah skincare favorit.

Rasanya udah tertebak ya, di instagram saya sering sekali nge-rave Lancome. Mulai dari serinya yang Energie de Vie sampai ya ini Advanced Génifique Youth Activating Serum yang saya pakai sebagai pengganti SK II FTE selama 5 bulan terakhir ini.

DSC01231 copy

kombinasi favorit saya saat ini, sudah saya gunakan selama 5 bulan secara rutin tanpa tambahan serum atau cream lainnya

Continue reading “Skincare Favorit Saat Ini : Lancome – Advanced Génifique Youth Activating Serum”

Korean Skincare, Skincare

Review : Hanyul Optimizing Serum (BAHASA)

Hai! Mumpung saya bisa produktif sepertinya untuk bulan ini, marilah kita produktif. Kali ini saya mau bahas soal skincare favoritku udah sekitar 4 bulan lebih (mungkin yang pernah liat di instasory inget kalau saya pernah bilang akan review porduk ini).

Memang bahas skincare lagi jarang belakangan ini karena memang tidak banyak yang berubah, bisa dibilang saya udah masuk zona nyaman buat skincare. Yang ga nyaman cuma satu : harganya *sad*.

Beberapa produk skincare yang mungkin akan saya review beberapa waktu ke depan: Lancome Advanced Genifique Youth Activating Concentrate, Lancome Energie De Vie The Overnight Recovery Sleeping Mask, dan L’occitane Shea Butter Cleansing Oil. Tetapi mungkin review produk produk ini baru akan keluar dalam waktu sebulan-dua bulan-bahkan lebih karena memang untuk mereview suatu skincare saya butuh waktu trial yang agak lama, minimal sebulan, untuk melihat reaksi kulitku dan efektifitas skincare tersebut, plus masih mengumpulkan pundi pundi uang karena salah satunya masih masuk wishlist alias belum terbeli.

Yang akan saya bahas hari ini adalah Hanyul – Optimizing Serum. Saya pertama kali tau soal skincare ini dari foto-foto flay lay Deszell yang kemudian berujung kepo ngubek ngubek internet dan berujung ke artikel ini di Female Daily.


Apa sih Hanyul Optimizing Serum itu?

Hanyul adalah brand skincare dari Korea yang mungkin jarang kita dengar karena memang online shop di Indonesia tidak banyak yang jual. Hanyul merupakan anak perusahaan Amore Pacific. Setauku, Hanyul bisa ditemukan di store Aritaum di Korea Selatan.

Jujur ini adalah skincare Korea pertama yang cocok dengan saya dari sekian banyak skincare dari negara tersebut yang dicoba.

Sebetulnya agak susah untuk mereview produk ini karena SUSAH sekali menemukan deskripsi produk resmi dalam bahasa Inggris. Bahkan official website Hanyul hanya tersedia dalam bahasa Korea.

Jadi secara garis besar saja. Hanyul Optimizing Serum ini kurang lebih fungsinya sebagai pre-essence yang berfungsi untuk mempersiapkan dan mengoptimalkan kerja produk selanjutnya.

Apa saja ingredients Hanyul Optimizing Serum?

Maaf sekali, lagi -lagi kali ini saya ga bisa menyertakan ingredients list lengkap seperti yang biasa saya lakukan kalau membahas skincare. Tetapi setidaknya analisis ingredientsnya dapat ditemukan di CosDNA.

Menurut klaim Hanyul, 83% dri serum ini berisi bahan aktif dari resep tradisional Korea, yang kalau saya liat dari list ingredients yang tertera di CosDNA, banyak sekali ekstrak tanaman yang salah satu fungsinya pasti sebagai antioksidan, antibakteri, dan lain lain.

Hanyul Optimizing Serum ini masih mengandung alkohol dan parfum, tetapi bagi saya ini bukan masalah besar karena saya bukan orang yang idealis tidak menggunakan skincare beralkohol atau parfum. Saya belum menemukan penelitian alkohol dalam kandungan skincare yang satu suara, alias, pada penelitian yang satu meyatakan alkohol dengan kadar berapapun akan merusak kulit sedangkan penelitian satu lagi mengatakan alkohol dibutuhkan dalam jumlah sedikit untuk membantu penyerapan skincare. Jadi selama baunya bukan bau menyengat alkohol, dan alkohol bukan ingredients nomor dua teratas, maka saya tidak akan mempermasalahkan.

Selain itu Hanyul Optimizing Serum juga masih mengandung pengawet, bagi yang mengharapkan skincare ini all naturals, bukan berarti tidak ada bahan sintetis, apalagi tidak pakai pengawet sama sekali. Tanpa pengawet mungkin suatu skincare hanya akan bertahan dua minggu bahkan kurang di negara kita yang panas dan lembab ini.

Packaging


Packagingnya berupa botol kaca yang berat dengan pump yang mudah dikontrol jadi tidak usah tsayat terlalu banyak produk yang digunakan. Kekurangannya : tidak travel friendly karena memang cukup berat dan saya tidak yakin botol ini antipecah.

Tekstur


Teksturnya cairan kental, jauh lebih kental dari SKII FTE (Seandainya dibandingkan sesama preserum), berwarna coklat bening dan menyerap sangat cepat setelah digunakan. Pada kotak hanyul juga disertakan lembaran petunjuk pemakaian agar serum ini efeknya lebih optimal.

Pemakaian dan Efek Jangka Panjang

Saya menggunakan optimizing serum ini setiap hari di pagi hari sebelum Lancome Energie De Vie Liquid Moisturiser sebanyak 1-2 pump yang kemudian saya ratakan pada wajah dan leher dengan gerakan mengusap ke atas. Kenapa hany saya gunakan di pagi hari? Karena pada kulit sya, serum ini memiliki efek mengurangi produksi minyak sedangkan pada malam hari saya butuh yang lebih lembab seperti FTE SKII yang belum tergantikan sudah hampir 2.5 tahun.

Meskipun serum ini ditujukan buat orang-orang dengan kulit kering, tapi tanpa pelembab, serum ini tidak menunjukkan efek melembabkan pada kulitku. Di sisi lain, serum ini benar-benar booster yang baik karena pelembab yang saya gunakan sesudahnya jadi lebih menyerap dan menunjukan efek signifikan, yaitu hiperpigmentasi pasca inflamasi karena cystic acne di pipi kanan saya yang tidak hilang dari setahun lalu menghilang hanya dalam 2 bulan saya menggunakan kombinasi keduanya. Mungkin dapat dibaca juga di sini kalau Lancome Energie De Vie Liquid Moisturiser merupakan moisturiser holy grailku beberapa bulan terakhir.

Harga?

Di online shop Indonesia serum ini dijual seharga 500-600 ribuan, dalam empat bulan penggunaa, serum ini masih tersisa sepertiga botol, a little goes a long way! Dan sejujurnya saya sudah repurchase satu botol untuk persediaan seandainya botol pertama habis, kemungkinan saya akan tetap repurchase karena saya cinta efek boosternya.

Oke sekian review saya mengenai Hanyul – Optimizing Serum. Semoga bermanfaat dan bisa jadi refrensi bagi teman teman yang sedang dalam pencarian preserum atau preessence atau apapun istilahnya. Sampai jumpa di post berikutnya! 

Skincare

Produk Drugstore Favorit 2016

Akhirnya bisa juga membahas produk drugstore favorit untuk tahun 2016 kemarin. Memang udah sering banget menerima masukan untuk membahas produk drugstore di blog karena harganya yang lebih masuk untuk kantung anak kuliahan sampai orang yang sudah bekerja.
Produk yang akan saya bahas di sini adalaj produk yang dapat ditemukan di drugstore Indonesia, khususnya Jakarta karena produk drugstore yang berasal dari luar negri seperti Jepang dan Prancis kadang saat sampai di Indonesia harganya sudah naik sekian persen bahkan sampai masuk kategori high end.

Semua yang saya tulis di sini adalah produk yang sudah saya beli dan pakai sendiri. Beberapa di antaranya sudah pernah repurchase dan mungkin akan terus saya gunakan selama tidak ada penolakan dari kulit saya. Memang di bawah ini saya tidak menuliskan pelembab atau serum karena jujur belum saya temukan satu pun pelembab atau serum dari drugstore yang bisa diterima dengan baik di muka saya.

Yuk kita mulai

img_0078
Continue reading “Produk Drugstore Favorit 2016”

Skincare

Must Review :Lancome Energie De Vie The Smoothing & Glow Boosting Liquid Moisturizer

Hai! Akhirnya bisa kembali setelah curi curi menulis ketika pelayanan sedang longgar karena kalau misalnya nunggu sampe rumah dulu, pasti ga akan kekejar untuk nulis di blog udah keburu repot sama anak suami dan lain-lain.

Jadi sebetulnya saya mau menulis mengenai Cetaphil Oily Cleanser, udah jalan tiga perempat tulisan kemudian sadar ada sesuatu yang missed. Akhirnya Cetaphil Oily Cleanser saya tunda mungkin untuk bulan Januari dengan judul Produk Drugstore Favorit 2016.

Karena itu hari ini saya akan menulis mengenai moisturizer yang menduduki posisi pertama sejak pertama kalinya saya mencoba moisturizer ini. Saya akui terpacu mencoba moisturizer ini karena memang strategi marketingnya bagus, packagingnya super cantik dan paling hepinya karena kualitasnya sesuai dengan promosi dan harganya. I am gonna say, this moisturizer worth every penny!

Continue reading “Must Review :Lancome Energie De Vie The Smoothing & Glow Boosting Liquid Moisturizer”

NIP+FAB, Shu Uemura, Skincare

A Review : NIP+FAB Glycolic Fix Daily Cleansing Pads

Seharusnya saya ngepost review ini sejak beberapa minggu yang lalu, sayangnya tetep aja ternyata saya harus menunda cukup lama karena urusan administrasi untuk kembali ke dunia persilatan yang memakan banyak waktu dan tenaga.

Seperti janji saya, kali ini saya akan membahas mengenai exfoliating toner lagi. Bedanya kali ini dalam bentukan pads.DSC_0129

Continue reading “A Review : NIP+FAB Glycolic Fix Daily Cleansing Pads”