Daily Life

Behind The Scene

Hahaha judulnya lebay ya daaan saya menunda melengkapi foto untuk post SK – II genoptics berhubung belum sempet foto – foto.

Di post ini saya ingin menjelaskan kenapa sih saya suka membahas skincare? Memangnya saya ini siapa? Beauty expert juga bukan, cantik banget kagak, selebgram pun bukan.

Jadi begini ceritanya,

 

Saya adalah seorang anak perempuan dari tiga bersaudara dengan seorang kakak perempuan yang cantik dan adik laki-laki yang ganteng. Semasa kecil kulit saya memang tidak sebagus kakak atau mama saya yang mulus dan putih ala ala orang Padang asli. Kulit saya coklat, belum lagi saya hobi berenang dari jam 8 pagi – 12 siang, jadilah saya sehitam arang. Setiap hari, iya betul ga lebay kok, setiap hari sejak saya kecil saya selalu dibandingkan dengan kakak saya. Setiap orang tau saya adiknya “Ih kok ga mirip?! Kamu item banget! Ga kayak kakak kamu” atau mungkin bukan membandingkan tapi sekedar menghina “Ines Item Ines Item” atau deskripsi ke orang “Tau Ines ga? yang mana? Yang item itu”.

Lalu kemudian kelas 5 SD muncul jerawat pertama yang seiring bertambahnya usia jadi anak SMP makin banyak lah itu jerawat plus tangan saya geratil banget jadi saya selalu pencet – pencet sana sini, alhasil muka saya penuh bopeng bekas jerawat, bahkan di jidat ada bekas luka karena jerawat yang tidak hilang sampai hari ini. Saya beruntung karena ga punya bakat keloid sehingga semua bekas jerawat itu bisa menghilang dengan baik kecuali yang memang lokasinya dalam sekali dan dipaksa keluar.

Sejak saat itu mama saya juga mulai rutin mengingatkan cuci muka. Dan yang sudah rajin cuci muka dari awal itu ya kakak saya, saya sih kadang ingat – lebih sering lupa. Sampai akhirnya hinaan dari sana sini makin banyak “Ines jerawatan. Item jerawatan idup lagi” lalu mereka tertawa, anak – anak bodoh itu dan orang orang dewasa yang lupa dengan siapa mereka berbicara.

Hal ini membentuk mental saya, jadilah saya orang yang minderan dengan fisik saya – till this time.

Kemudian seperti layaknya orang yang tidak PD dengan kondisi kulitnya yang hitam dan jerawatan memulai pencaharian skincare dari kecil. Karena saat saya SD informasi terdekat hanya ada tv dan koran tentu saya tidak bisa menjangkau informasi di dunia internet, yang saya makan sehari – hari adalah iklah merk merk lokal. “Putih bersinar bebas jerawat dalam satu hari!” “Kulit kusam? Pake sabun X, 7 hari rasakan bedanya” dan tergiur karena meihat model model iklan itu cantik cantik sekali dan tau kan anak kecil pasti akan berpikir, wah mereka putih dan cantik kayak bule gitu pasti karena sabun ini. Alhasil tiap ke supermarket, BM mau semua sabun cuci muka. Karena pemikiran primitif saya kalau sudah cuci muka bersih, pasti besok kulitnya ga jerawat lagi.

Tapi tentunya hal ini ga banyak berefek di kulit saya, sampai suatu hari saya frustasi banget dengan jerawat jerawat gila itu, kemudian saya cuci muka pake dua sabun biore langsung. Muka saya sesudah itu seperti tertarik dan saya yakin banget besok pagi saya bangun udah kinclong. Tetoooot anda salah besar.

Akhirnya saya menyerah dan memilih untuk hidup dengan hinaan – hinaan yang keluar dari mulut anak kecil maupun orang dewasa yang mungkin hanya menggunakan otaknya sebanyak 5%.

Suatu hari saya pernah juga minta ke mama saya sabun muka agak mahalan dikit (mahalnya itu begini, yang lain 15 ribu – nah yang ini 30 ribu), awalnya mama mengiyakan, lama kelamaan mama saya capek dan bilang “Mama aja dulu cuma cuci muka pake sabun colek. Ines jangan berlebihan gitu!”

Udah stuck ga ketemu jalan keluar. Lalu sampai di usia puber mulai pacaran. Saya punya pacar dan entah mungkin dia mengetahui kelemahan saya adalah hinaan macam “item jelek dll” jadi itu juga lah yang dia gunakan mengintimidasi saya. Iya, saya merasa jelek sehingga saya mau melakukan apa saja supaya tetap punya pacar karena saya kira ga bakal ada orang waras yang mau sama saya (lah? berarti saat itu pacar kamu gila?).

 

Akhirnya suatu hari Mama saya sadar kondisi kulit saya parah, dibawa lah saya ke klinik estetik non dokter spesialis. Wow, saya terlena. Dua minggu sekali saya kontrol peeling dll padahal usia saya masih 14 tahun. Beberapa bulan kemudian klinik spesialis buka di Balikpapan, jadilah saya kesana. Alhamdulillah penanganannya sesuai usia saya, tidak ada peeling berlebihan. Eksfoliasi tetap jalan tapi secara ringan saja.

 

Kulit saya jauh membaik, lebih cerah, jerawat berkurang drastis. Thanks to you doctors. Saya mulai menerima pujian dan bahkan beberapa temen saya ga percaya loh saya pernah jerawatan.

Lulus SMA saya kuliah di kedokteran, di tingkat akhir preklinik di blok yang paling susah saya mempelajara penginderaan, salah satunya kulit. Materi acne saya baca betul-betul. Mulai dari acne karena obat karena kosmetik dan lain lain. Setiap hari kalau ditanya orang dekat saya akn bilang ingin jadi spesialis kulit. Dan mereka semua menyesalkan atau menertawakan

“Nes, kamu itu bagusnya penyakit dalam” I’ve heard this hundred times! And not from one person.

“Apa itu dokter kulit, cuma dokter dokteran” This. Ini bener-bener membuat saya kecewa. Seandainya saya bisa bilang ke orang itu, orang pertama yang berhasil mengembalikan kepercayaan diri saya adalah dokter kulit yang tepat. Dan kepercayaan diri yang baik akan membawa seseorang ke tempat yang baik. Menjadi dokter bukan hanya menyembuhkan orang. Seseorang memiliki banyak alasan untuk sakitnya, dan kebanyakan bukan karena organnya rusak tapi karena pikiran mereka. Nah apa tidak penting mengembalikan kepercayaan diri seorang wanita/laki-laki muda untuk tubuhnya sendiri?

Lulus dari kedokteran saya membantu dosen kulit saya menulis jurnal, kemudian saya membaca beberapa jurnal kulit. Kenapa pelembab ini kenapa itu. Bahkan saya mencari buku Kosmeseutikal yang beliau sukai dan saya baca sendiri. Di situlah saya menemukan momen “oooh” “aaah” “wooow”, bukan bacaan yang ringan tapi cukup menyenangkan untuk brainstorming.

 

Saya akui saya mungkin tidak bisa menerapkan buku dan jurnal dari dosen saya se-perfect seorang dokter yang menjalani spesialisasi 5 tahun lebih, tetapi setidaknya cukup untuk saya terapkan ke diri saya sendiri di saat saya harus ada di ujung Indonesia yang tidak ada dokter kulitnya.

Sampai sekarang sudah 2 tahun saya hidup tanpa krim dokter. And these are my heroes.

 

 Sorry kualitas gambarnya jelek. 

Banyak yang tanya “Kenapa sih nes harus yang mahal?”

Saya beli barang – barang ini bukan karena mahal apalagi karena kemakan hype. Tapi karena mereka yang berefek di kulit saya dan seandainya saya dihadapkan ke pilihan tas – sepatu – baju atau skincare? Ya, saya akan pilih skincare meskipun harus seharga tas fossil, sepatu timberland, baju zara. Untuk ukuran kebutuhan tersier, my skin is my number one. Karena saya ingin kulit saya tetap sehat bahkan setelah saya 50 tahun, 60 tahun. Yes I love my skin that much.

Oh dan seandainya kalian orang yang dekat dengan saya pasti tau tas saya semuanya hitam, sepatu saya pun hitam. Baju saya polosan dan modelnya yang timeless. Why? Karena saya ga mau repurchase tas dan baju setiap sebulan sekali. Tas sepuluh tahun kemudian hanya akan jadi tas, so I don’t want to spend much on those things.

Dan tolong jangan suruh saya coba skincare indonesia yang dijual di supermarket atau dimana, saya udah terlanjur benci karena iklan-iklan mereka yang menggiring publik ke kesimpulan yang salah bahwa cantik itu harus putih lagipula saya ga cocok karena kebanyakan membuat kering keterlaluan bahkan untuk kulit berminyak.

Ya jadi sekian dari saya. Sekali lagi saya tekankan, saya memang seorang dokter tapi belum dokter spesialis kulit, saya bukan beauty expert, saya bukan skincare hoarder, kulit saya tidak flawless – saya punya BANYAK banget whitehead di pipi kiri dan jidat sisi kanan, saya tidak cantik, dan saya tekankan saya tidak putih dan tidak ingin jadi putih karena inilah saya, orang Indonesia dengan kulit sawo matang. Yes, I am one of that exotic girls, deal with it.

Dan buat orang orang dewasa maupun remaja : jangan pernah menghina fisik orang apa lagi anak kecil. They have feelings. You think it’s funny, not for them. Bukan mau mereka jadi jelek, gendut, kurus, pendek. Just shut up and mock your own body.

 

Rumbai, 27 Mei 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s