Skincare

Ke Dokter Atau Tidak?

Saya sering sekali mendengar pertanyaan ini, bukan satu – dua orang yang galau mengenai hal ini. Apalagi karena saya adalah mantan pengguna skincare dokter selama 9 tahun dan sekarang sedang nyaman dengan skincare yang dijual bebas.

 

Banyak mitos yang harus diluruskan mengenai penggunaan skincare dokter.Kalimat yang paling sering saya dengar setiap seseorang mau pergi ke dokter adalah “jangan! Nanti ketergantungan obat dokter!”

Lalu, apakah ketergantungan itu?

Sedangkan dalam dunia medis ketergantungan obat = substance (drug) dependency

Substance (drug) dependence is the medical term used to describe abuse of drugs or alcohol that continues even when significant problems related to their use have developed.(http://www.hopkinsmedicine.org/healthlibrary/conditions/mental_health_disorders/substance_abusechemical_dependency_85,P00761/)

Ketergantungan subtans (obat) adalah istilah medis yang digunakan untuk mendeskripsikan penyalahgunaan obat-obatan atau alkohol yang terus berlangsung meskipun telah muncul permasalahan signifikan yang berkaitan dengan penyalahgunaan obat tersebut.

(http://www.hopkinsmedicine.org/healthlibrary/conditions/mental_health_disorders/substance_abusechemical_dependency_85,P00761/)

Jadi apakah pas istilah ketergantungan untuk penggunaan obat dari dokter kulit? menurut saya sih tidak.

 

Nah sebetulnya apa sih yang terjadi pada kulit kita? kenapa kok dikasih obat dokter bisa bagus, pas lepas berantakan lagi?

Simpelnya seperti yang saya gambarkan di bawah ini

    
Pada kulit yang secara genetik bukan kulit boneka tanpa perawatan biasanya punya banyak masalah. Mulai dari terlalu berminyak, sebentar-sebentar berjerawat, kering dan pecah sana sini, atau apalah yang jadi keluhan.

Nah dokter kulit akan memberikan kulit kita perawatan yang sesuai dengan kebutuhan kulitnya, langsung to the point. Di dalam perawatan itu terdapat zat – zat aktif yang akan membantu menyelesaikan masalah kulit kita. Zat aktif tersebut diracik berdasarkan dosis yang ditentukan dokter oleh seorang apoteker. Karena zat aktif dapat menimbulkan respon yang berbeda-beda maka dokter biasanya mewajibkan pasiennya untuk kontrol sehingga seandainya ada respon negatif, zat tersebut dapat distop dan diganti dengan obat lain.

Lalu gimana kalau obatnya distop?

Ya sama saja seperti kita berhenti menggunakan perawatan kulit lainnya. Misalnya, tidak ada lagi zat aktif yang mengendalikan minyak di regime yang baru? Ya pasti kembali berminyak lagi. Tidak ada zat eksfoliator di regime terbaru? Nah kulitnya balik kusam lagi. Dan seterusnya.

 

Secara garis besar sebetulnya sama aja dengan beli skincare bebas, tapi dengan dokter penggunaannya dikontrol dan seenggaknya ga buang-buang uang trial and error terlalu banyak. Meskipun, kadang ada aja udah pake dokter paling mahal sekalipun tetep aja masalahnya ga mau beres.

 

Ah tapi mahal biaya dokter

Yaah bisa mahal, bisa lebih murah tergantung kitanya lagi.

Kalau aku waktu pake dokter dengan dokter yang ga neko neko (ga pernah maksa peeling atau facial, semuanya atas kemauan aku sendiri):

ketemu dokter sebulan-dua bulan sekali Rp500.000-Rp600.000 ; Facial 3 minggu sekali Rp350.000 (kalau ga facial mukanya jadi ladang komedo, tapi facial juga beresiko tinggi kalau sampai ga bersih bisa habis mukanya keluar acne besar-besar)

Kemudian aku pingin pake yang dijual bebas

Satu set tea tree TBS –> ga cocok (Ga tau jumlah kerugian berapa, ga mau inget inget. Sedih)

Satu set Shiseido White Lucent –> Ga cocok, bermilia (JANGAN TANYA jumlah kerugian hiks. Belum lagi biaya dokter untuk ekstraksi milianya dan was was seandainya muncul scar)

Nah terus aku sekarang cocok dengan SK II, FAB, Good Genes, Pixi, Paula’s Choice, Kiehls dan lain lain. Aku udah ga pernah facial setahun lebih dan alhamdulillah jumlah komedo masih bisa dimaklumi. Jangan tanya harganya berapa tapi ada yang habis dalam setahun- setahun lebih- 3 bulan – dst, selain itu enaknya saya bisa coba-coba produk lain tanpa takut bentrok karena saya bisa baca dulu ingredients produk yang saya pakai. Yang jelas masih lebih murah dari pada setahun saya di dokter. Tetapi saya akui, seandainya ada salah satu dari produk yang saya sebutkan ga cocok, saya bakal stress berat. Karena selain duitnya habis buat produk mahal, produk kebuang sia-sia, nyelesain masalah yang ditimbulkan juga ga murah, belum lagi kalau masalah tersebut menimbulkan bekas luka yang cuma bisa dikoreksi pake laser.

 

Jadi seandainya kita memang ga mau pake dokter, yang harus dilakukan:

Terima kondisi kulit kita

jangan berharap yang nggak nggak (kulit indonesia pingin jadi kulit korea itu kan namanya yang nggak nggak aja)

banyak baca terutama soal zat zat aktif supaya kalau bertanya punya bekal untuk diskusi,Jangan blank sama sekali dan minta disuapin apalagi sekarang banyak banget jurnal terbaru yang asik buat dibaca, seandainya kita blank sama sekali soal kulit- kita akan jadi mangsa empuk sales kosmetik.

Skincare itu ga harus beli satu set, kadang mereka lebih bagus kalau dikombinasi dengan seri yang lain.

Kalau takut banget mau pilih skincare dan ga mau ke dokter, ya paling usahakan cari skincare yang bebas pewangi untuk meminimalisir risiko alergi 

 

Tetapi kalau kita termasuk orang yang ga berani ambil resiko dan ingin ada yang mengarahkan secara detail, pergilah ke dokter. Seandainya ada yang ingin ditanyakan, jangan malu bertanya ke dokternya. Karena salah satu tugas dokter adalah edukasi, seandainya tidak ada pertanyaan ntar dokternya kira kita udah ngerti seratus persen.

Terakhir dan paling penting untuk selalu diingatkan : Tidak ada yang disebut dengan keajaiban. Semuanya butuh waktu.

Oke sekian dari saya, semoga bermanfaat.

 

Duri, 7 April 2016.

 

 

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Ke Dokter Atau Tidak?”

  1. Saya juga bermasalah dengan milia, Mbak Ines. Dan betul sekali, milia itu ikin tekstur kulit jadi mirip jalanan yang berbatu. Tidak rata. Apalagi kalo milianya pas di tilang pipi. Ketemu sebum, jadinya jerawat. Hiks. Mukanya jadi jelek bekas hitam jerawat. Gangguuuu bener. Nah, dari pengalaman Mbak Ines yang sempat bermilia, untuk mengatasi milianya tanpa ekstraksi di klinik, Mbak Ines pakai produk apa yang mujarab mengeluarkan milia itu? Mohon bantuannya. Terima kasih.

    Suka

    1. Halo Dian, dulu saya sempat ekstraksi di klinik dan itu bikin bopeng bekas jerawat saya nambah 😦 karena memang ekstraksi milia besar sekali kemungkinan timbul bopengnya, soalnya milia ini kan posisinya jauh di dalam lapisan kulit, berbeda dengan komedo biasa. Sebetulnya kalau mau sabar, rajin cuci muka dan eksfoliasi bisa membantu sekali untuk milia. Dulu sih saya rutin pakai glamglow supermud (yang botol putih) dua hari sekali. Sekarang saya rutin eksfoliasi dengan Paula’s Choice BHA 2% πŸ™‚

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s