Skincare

Tips Belanja Skincare dan Makeup Agar Tidak Mubazir

Tips belanja makeup dan skincare dari seorang hoarder kayak saya? Layak ga sih dibaca? Jawabannya : saya sebagai penulis berharap layak karena blog ini saya tulis langsung seteah saya membongkar meja rias saya semalam, meja rias yang lebih mirip blackhole! Banyak sekali skincare dan makeup yang saya buang, bahkan serum seharga satu juta lebih yang belum dibuka sama sekali.

Saya adalah seorang pecinta dan petualang skincare sejak tahun 2015 Mulai dari mencoba high end brands sampai drugstore (judulnya drugstore di luar negri, sampai ke indonesia tetep aja kategori harga high end zz). Sebelum tahun 2015 saya setia dengan dokter, dengan budget minimal IDR 500k/bulan, baru krim dan konsul, belum tindakan macam facial.

Tentunya saat peralihan itu saya merasa super enak dong beralih ke brand yang dijual bebas. Misalnya saya di klinik 500k/ bulan, dalam 3 bulan saya akan keluar 1,5 juta. Kalau ditambah tindakan macam facial 350/ bulan, bahkan kadang per dua minggu dengan kondisi kulit saya saat itu. Bisa jadi totalnya dalam 3 bulan saya sudah keluar 2-3 jutaan. Dengan kata lain brand yang dijual bebas terasa lebih hemat karena misal saya keluar untuk serum 1,8 juta, nah itu bisa bertahan paling tidak 6 bulan dengan cara pakai sesuai rekomendasi brand.

Saya tidak bilang di klinik itu buang-buang duit, klinik sangat baik untuk orang dengan kulit bermasalah, setidaknya sampai tahap maintenance karena mencoba skincare yang dijual bebas jauh-jauh lebih banyak keluar uang daripada meminta ahlinya (dokter spesialis kulit dan kelamin) untuk menentukan apa yang dibutuhkan oleh kulit kita yang awam ini.

Jadilah dengan bayangan akan hemat ini saya terbuai. Saya suka sekali membeli serum, apalagi yang digembar-gemborkan oleh para influencer. Mereka tidak salah sih, mereka kan hanya berbagi plus cari nafkah. Yang salah kita, karena tidak punya tameng, tidak punya dasar, tidak mau membaca. Atau kalau dalam kasus saya, terlalu banyak refrensi ingredients bagus, akhirnya merasa harus mencoba semuanya apalagi kalau ada online shop diskon. Padahal diskon ongkir doang.

27356119_1238386689626500_6597995038364501329_o

Jadilah saya beli banyak serum yang konon bagus itu. Sambil berharap “Nanti kalau yang ini habis, saya pindah kesini, terus kesini”. BLAH! Jangan lakukan itu untuk skincare! Kenapa?

Karena kita jadi ga tau mana yang terbaik untuk kulit kita, berdasarkan pengalaman saya, skincare sebagus apapun mulai terlihat efek positif signifikannya setelah sebulan (ada sih yang efeknya dua minggu juga keliatan, tapi rasanya terlalu muluk-muluk kalau kita tidak pantau konsisten sampai sebulan). Bayangkan kalau sebulan habis kita ganti lagi-ganti lagi. Atau ternyata kita cocok banget tapi kita jadi tidak punya budget untuk repurchase karena sudah keburu invest di skincare lain yang saat itu kita kira akan kita pakai. Ini bisa berujung tiga : skincare yang pertama tetap kita repurchase lalu yang kedua harus nganggur sampai kadaluarsa dan akhirnya dibuang. Kebayang ga ngebuang duit 1,5 juta? Dijual lagi dosa kalau kita ga jujur itu kadaluarsa, dipakai lebih seram.

27459422_476109502791094_6741838368208164407_n

Atau pilihan kedua, kita tetap konsisten buka skincare kedua tapi kemudian tidak cocok, akhirnya harus dibuang/preloved; atau ketiga, kita jadi ga bisa menilai seberapa efektif skincare kedua ini karena skincare pertama bagusnya masih nyisa dan ujungnya jadi bingung mau repurchase yang mana.

Tips saya untuk skincare : kenali kulit kita, nah ini jujur sangat tidak murah, karena untuk mengenal kulit kita biasanya kita harus mencoba beberapa skincare dengan bahan aktif yang berbeda. Tapi ya ga hematnya jangan diperpanjang dong, cukup sampai mengenal aja.

Belajar konsisten : Jangan terbujuk rayu! Apalagi oleh sosial media, influencer dibayar untuk mempengaruhi, and that’s totally okay! Because it’s their job. And it’s our job to use our logic. Do we need it? Will it suits our skin? Lah kok jadi bahasa Inggris.

Ya intinya, marketing zaman sekarang udah sadar seberapa besar impact media sosial berupa blog, vlog, IG seeds, IG story sehingga mereka akan jorjoran memaksimalkan aspek-aspek ini.
Dan ini bukan berarti kita harus unfollow semua influencer yang ada di dunia, saya pribadi suka banget foto-foto di IG seeds para influencer karena rapih, kita cuma perlu berpikir butuh atau sekedar terpengaruh?

Pelajari skincare sebelum membeli : Jangan tergiur beli karena packaging atau karena harganya murah. Selalu. Selalu beli barang karena fungsinya. Karena meskipun harga suatu skincare murah, ya itu duit juga, kalau ga dipakai, yang dibuang duit juga. Jadi kalau mau beli dan harganya agak mahal, ASAL DIPAKAI, itu lebih masuk akal. Kalau merasa takut beli mahal dan tidak cocok : Usaha cari trial size deluxe paling tidak yang 7 ml.

Tidak perlu terburu-buru membeli backup : Skincare high end rata-rata harganya ga akan jomplang-jomplang banget meskipun udah diskon kecuali kita lagi lewat di duty free karena biasanya mereka punya value pack yang ada 5 botol harga 3 botol atau semacamnya, nah ini sah sah saja, asal kita tau skincare itu pasti akan kita pakai karena ga ada rencana ganti dalam waktu dekat dan .

Tidak perlu beli langsung dua botol dengan alasan takut kehabisan, kalau judulnya skincare, kita selalu punya spare time kok untuk mecoba dan sadar cocok sebelum beli lagi. Seandainya kita mau standby sebelum isi botol yang kita pakai benar-benar habis, sebaiknya kita beli kira-kira sebulan sebelum benar-benar habis.

Nah kalau skincare memang saya tidak bisa banyak share tipsnya, karena skincare per itemnya saja lebih mahal dari makeup. Setidaknya yang di atas ini pasti bisa diterapkan. Kalau niat.

Lanjut ke makeup.

Lebih banyak makeup daripada skincare yang saya buang tadi malam. BANYAK BANGET. sampai 3 plastik. Dan apakah item terbanyak? Lipstick. LIPSTICK. Mulai dari high end-drugstore. 

Screen Shot 2018-02-07 at 09.43.51

Sumber : https://www.askideas.com/35-most-funniest-make-up-meme-pictures-and-images/

Dulu saya anggap meme ini lucu, sekarang saya malu dan hanya ingin berhenti. Mual membayangkan berapa banyak yang saya buang tadi malam. Bahkan ada yang luxury brand. I really need to stop. 

Menurut saya sebaiknya lipstick itu dibagi : untuk formal, untuk harian. Dan jangan pernah beli yang warnanya sama atau beda satu tone doang. Please, kita harus bener-bener pakai logika kalau sama lipstick. Zaman dulu sebelum sosial media hits memang saya kalap banget kalau ada lipstick nude buat skintone saya yang super golden.

Tapi kalau zaman sekarang rasanya banyak brand yang sudah sadar variasi skintone sehingga warnanya lebih wearable. Dan selama kita masih punya lipstick dengan warna kesayangan tersebut, tidak usah takut akan kehabisan sebelum dapat backup. Karena satu lipstick konvensional yang dipakai setiap hari bisa bertahan 6 bulan bahkan lebih. Dan liquid lipstick bisa bertahan 3 bulan dengan volume 2.5 ml.

Jadi teman-teman, jangan sampai

26240813_1222455081219661_3962051600772000926_o

STOP. Because we don’t need it. We just want it. Meskipun harganya murah. Stop, karena kalau sampai tidak dipakai, yang dibuang itu uang.

Bagaimana dengan foundation?

Foundation saya punya beberapa, suprisingly masih layak pakai semua/ tidak ada yang terbuang karena kadaluarsa. Dan bahkan sudah mau habis.

Untuk foundation kalau kita tipe yang ga tahan untuk ga beli foundation, pertama kita harus tau jenis kulit kita dan kemana foundation tersebut akan kita pakai. Dan undertone kita. Usahakan untuk selalu mencoba tekstur foundation langsung di konter, dan TAHAN untuk tidak membeli sebelum bisa coba langsung. Meskipun influencer yang di sana sudah heboh, yang di sini sudah jungkir balik. Ingat, mereka dibayar. Influencernya mau bule atau mau bangsa indonesia, mereka dibayar.

Beli foundation juga  tidak bisa hanya jalan-jalan ke konter, dipromosiin mbaknya, dicoba di tangan DAN LANGSUNG BELI. No you CAN NOT do it. Kalau saya dan teman-teman, seandainya ragu, Ya kita datang dengan muka polosan atau minimal pake primer andalan, setengah muka kita oles undertone A, setengah lagi B. Kemudian kita harus berani untuk bilang ke BAnya kalau kita mau tes dulu daya tahan dan akan oxidized atau tidak foundation tersebut meskipun nanti BAnya jutek, bodo amat, kalau kita beli mahal-mahal dan ternyata tidak cocok kan yang rugi kita, BAnya mah dapet komisi karena berhasil menjual. Dan memang bukan hak BAnya juga melarang kita test dulu foundationnya beberapa lama, justru kewajiban mereka untuk menjelaskan kelebihan dan kekurangan foundation tersebut. Kalau dia tidak bisa menjelaskan ya sudah, dia tidak menguasai produk, tidak usah merasa tidak enak.

18556660_1226790014119501_2338486483907614547_o

Ini nih kekurangan BA di Indonesia, banyak tidak menguasai produk dan pelit sekali tersenyum. Beda dengan BA Butik kosmetik YSL di Pavilion Kuala Lumpur yang saya kunjungi minggu lalu. Mereka benar-benar friendly dan kerjaannya bukan hanya promo produk baru, tapi benar-benr mencari yang cocok dengan kulit kita meskipun harus ngubek-ngubek laci.

Intinya kalau mau beli foundation kita harus niat untuk mencoba, meskipun harus habis waktu seharian. Daripada beli sejuta, eh ga bisa dipakai sampai habis.

Apa lagi ya? Rasanya kalau makeup untuk saya dua itu yang paling banyak mengeluarkan budget. Bedanya lipstick ini termasuk kebutuhan sangat tersier sedangkan foundation masih bisa masuk kebutuhan primer untuk kategori makeup karena kulit saya tidak bisa kena bedak sebelum dialasi foundation.

Untuk item makeup yang lain :

Tips beli blush on : Beli satu kali palette blush on yang langsung isi 5 warna atau sepuluh warna karena lebih hemat, bisa dikombinasi, tidak rawan bosan. Kalau mau beli per satuan, hindari beli online agar tidak tertipu warna di komputer

Tips beli bedak : Bedak dibagi jadi dua, finishing dan setting. Setting tujuannya sesuai nama : Set, mengeset foundation/ concealer/ krim ditempatnya, setting powder biasanya tidak berglitter, hanya flat matte saja. Sedangkan finishing tujuannya untuk mengarahkan ke finish yang kita inginkan, mulai dari glitter yang subtle sampai sebesar-besar lampu disko. Cara menggunakannya pun berbeda. Setting powder di press-and-roll sedangkan finishing powder kuasnya hanya dilambai-lambai halus agar tidak cakey.

Powder saya punya 3 : satu loose setting powder, satu pressed setting powder untuk saya bawa-bawa di tas, satu finishing powder yang awalnya sempat saya sesali karena tidak mengerti cara pakainya.

Kalau sudah punya tiga itu dan masih ingin beli bedak lagi, fix, mubazir.

Tips beli maskara : Pelajari mau kita dulu, suka yang finish natural atau finish dramatic bold syalala. Beli satu aja, ga usah banyak2, karena maskara meskipun disegel dan disimpan kalau cara penyimpanannya salah, ketika dipakai akan clumpy. Padahal barang aslinya tidak sejelek itu.

Tips beli tools : Tools menurut saya sesuatu yang bisa kita jadikan investasi sih, karena dia tidak akan kadaluarsa dan sangat menentukan hasil makeup juga. Beli brushminimal yang basic. Dan sponge seperti Beautyblender dan Real Techniques sebetulnya sudah sangat lebih dari cukup untuk pemula karena bisa dipakai untuk apply foundation, apply bedak, blush on dll dan gampang sekali dibersihkan. Karena sponge harus lembab untuk dipakai jadi setelah dicuci tidak usah menunggu kering tapi harus diperas sampai lembab, jangan dipakai dalam keadaan basah karena membuat makeup kita patchy.

Okay sekian tulisan saya mengenai tips belanja makeup dan skincare. Mungkin ini masih jauh dari cukup untuk menjelaskan semuanya. Tapi hal-hal ini minimal harus ada di otak kita sebelum belanja.

Tips pastinya : Kalau barang itu tidak kamu butuhkan hari ini, berarti kamu tidak butuh. Jadi ga usah buru-buru dibeli.

See you on my next post! 🙂

Sumber meme qasidah : https://web.facebook.com/pg/qasidahmemes/photos/?ref=page_internal

Iklan
clinique, Drugstore Brand, L'oocitane, Shu Uemura, Skincare

Secuil Review Mengenai Oil Cleanser

Hai! saya kembali lagi, kali ini saya ga akan membahas review produk satu per satu secara detil tapi akan langsung segambreng dan langsung ke bagian-bagian detail.

Di post kali ini saya akan membahas mengenai oil cleanser yang saya pakai dalam 3 tahun terakhir. Ada beberapa tetapi ini tidak semuanya. Yang akan saya bahas di post kali ini adalah yang sering ditanyakan perbandingannya oleh beberapa teman dekat saya.

DSC01316 copy

Continue reading “Secuil Review Mengenai Oil Cleanser”

Lancome, Skincare

Skincare Favorit Saat Ini : Lancome – Advanced Génifique Youth Activating Serum

Kembali lagi bersama saya setelah sekian juta tahun mangkir, bukan karena ga ada ide tulisan… idenya BANYAK banget yang ngantri di kepala, yang sulit didapatkan adalah waktu dan tenaga berhubung lagi hamil anak ke-2.

Jadi beberapa waktu yang lalu saya sempat update di Instastory perihal apa sih yang mau dibahas di blog di tulisan yang akan datang? Apa skincare favorit? Atau makeup on the go alias makeup yang saya bawa buat traveling ke empat kota selama sebulan kemarin? Dari hasil polling yang menang adalah skincare favorit.

Rasanya udah tertebak ya, di instagram saya sering sekali nge-rave Lancome. Mulai dari serinya yang Energie de Vie sampai ya ini Advanced Génifique Youth Activating Serum yang saya pakai sebagai pengganti SK II FTE selama 5 bulan terakhir ini.

DSC01231 copy

kombinasi favorit saya saat ini, sudah saya gunakan selama 5 bulan secara rutin tanpa tambahan serum atau cream lainnya

Continue reading “Skincare Favorit Saat Ini : Lancome – Advanced Génifique Youth Activating Serum”

Korean Skincare, Skincare

Review : Hanyul Optimizing Serum (BAHASA)

Hai! Mumpung saya bisa produktif sepertinya untuk bulan ini, marilah kita produktif. Kali ini saya mau bahas soal skincare favoritku udah sekitar 4 bulan lebih (mungkin yang pernah liat di instasory inget kalau saya pernah bilang akan review porduk ini).

Memang bahas skincare lagi jarang belakangan ini karena memang tidak banyak yang berubah, bisa dibilang saya udah masuk zona nyaman buat skincare. Yang ga nyaman cuma satu : harganya *sad*.

Beberapa produk skincare yang mungkin akan saya review beberapa waktu ke depan: Lancome Advanced Genifique Youth Activating Concentrate, Lancome Energie De Vie The Overnight Recovery Sleeping Mask, dan L’occitane Shea Butter Cleansing Oil. Tetapi mungkin review produk produk ini baru akan keluar dalam waktu sebulan-dua bulan-bahkan lebih karena memang untuk mereview suatu skincare saya butuh waktu trial yang agak lama, minimal sebulan, untuk melihat reaksi kulitku dan efektifitas skincare tersebut, plus masih mengumpulkan pundi pundi uang karena salah satunya masih masuk wishlist alias belum terbeli.

Yang akan saya bahas hari ini adalah Hanyul – Optimizing Serum. Saya pertama kali tau soal skincare ini dari foto-foto flay lay Deszell yang kemudian berujung kepo ngubek ngubek internet dan berujung ke artikel ini di Female Daily.


Apa sih Hanyul Optimizing Serum itu?

Hanyul adalah brand skincare dari Korea yang mungkin jarang kita dengar karena memang online shop di Indonesia tidak banyak yang jual. Hanyul merupakan anak perusahaan Amore Pacific. Setauku, Hanyul bisa ditemukan di store Aritaum di Korea Selatan.

Jujur ini adalah skincare Korea pertama yang cocok dengan saya dari sekian banyak skincare dari negara tersebut yang dicoba.

Sebetulnya agak susah untuk mereview produk ini karena SUSAH sekali menemukan deskripsi produk resmi dalam bahasa Inggris. Bahkan official website Hanyul hanya tersedia dalam bahasa Korea.

Jadi secara garis besar saja. Hanyul Optimizing Serum ini kurang lebih fungsinya sebagai pre-essence yang berfungsi untuk mempersiapkan dan mengoptimalkan kerja produk selanjutnya.

Apa saja ingredients Hanyul Optimizing Serum?

Maaf sekali, lagi -lagi kali ini saya ga bisa menyertakan ingredients list lengkap seperti yang biasa saya lakukan kalau membahas skincare. Tetapi setidaknya analisis ingredientsnya dapat ditemukan di CosDNA.

Menurut klaim Hanyul, 83% dri serum ini berisi bahan aktif dari resep tradisional Korea, yang kalau saya liat dari list ingredients yang tertera di CosDNA, banyak sekali ekstrak tanaman yang salah satu fungsinya pasti sebagai antioksidan, antibakteri, dan lain lain.

Hanyul Optimizing Serum ini masih mengandung alkohol dan parfum, tetapi bagi saya ini bukan masalah besar karena saya bukan orang yang idealis tidak menggunakan skincare beralkohol atau parfum. Saya belum menemukan penelitian alkohol dalam kandungan skincare yang satu suara, alias, pada penelitian yang satu meyatakan alkohol dengan kadar berapapun akan merusak kulit sedangkan penelitian satu lagi mengatakan alkohol dibutuhkan dalam jumlah sedikit untuk membantu penyerapan skincare. Jadi selama baunya bukan bau menyengat alkohol, dan alkohol bukan ingredients nomor dua teratas, maka saya tidak akan mempermasalahkan.

Selain itu Hanyul Optimizing Serum juga masih mengandung pengawet, bagi yang mengharapkan skincare ini all naturals, bukan berarti tidak ada bahan sintetis, apalagi tidak pakai pengawet sama sekali. Tanpa pengawet mungkin suatu skincare hanya akan bertahan dua minggu bahkan kurang di negara kita yang panas dan lembab ini.

Packaging


Packagingnya berupa botol kaca yang berat dengan pump yang mudah dikontrol jadi tidak usah tsayat terlalu banyak produk yang digunakan. Kekurangannya : tidak travel friendly karena memang cukup berat dan saya tidak yakin botol ini antipecah.

Tekstur


Teksturnya cairan kental, jauh lebih kental dari SKII FTE (Seandainya dibandingkan sesama preserum), berwarna coklat bening dan menyerap sangat cepat setelah digunakan. Pada kotak hanyul juga disertakan lembaran petunjuk pemakaian agar serum ini efeknya lebih optimal.

Pemakaian dan Efek Jangka Panjang

Saya menggunakan optimizing serum ini setiap hari di pagi hari sebelum Lancome Energie De Vie Liquid Moisturiser sebanyak 1-2 pump yang kemudian saya ratakan pada wajah dan leher dengan gerakan mengusap ke atas. Kenapa hany saya gunakan di pagi hari? Karena pada kulit sya, serum ini memiliki efek mengurangi produksi minyak sedangkan pada malam hari saya butuh yang lebih lembab seperti FTE SKII yang belum tergantikan sudah hampir 2.5 tahun.

Meskipun serum ini ditujukan buat orang-orang dengan kulit kering, tapi tanpa pelembab, serum ini tidak menunjukkan efek melembabkan pada kulitku. Di sisi lain, serum ini benar-benar booster yang baik karena pelembab yang saya gunakan sesudahnya jadi lebih menyerap dan menunjukan efek signifikan, yaitu hiperpigmentasi pasca inflamasi karena cystic acne di pipi kanan saya yang tidak hilang dari setahun lalu menghilang hanya dalam 2 bulan saya menggunakan kombinasi keduanya. Mungkin dapat dibaca juga di sini kalau Lancome Energie De Vie Liquid Moisturiser merupakan moisturiser holy grailku beberapa bulan terakhir.

Harga?

Di online shop Indonesia serum ini dijual seharga 500-600 ribuan, dalam empat bulan penggunaa, serum ini masih tersisa sepertiga botol, a little goes a long way! Dan sejujurnya saya sudah repurchase satu botol untuk persediaan seandainya botol pertama habis, kemungkinan saya akan tetap repurchase karena saya cinta efek boosternya.

Oke sekian review saya mengenai Hanyul – Optimizing Serum. Semoga bermanfaat dan bisa jadi refrensi bagi teman teman yang sedang dalam pencarian preserum atau preessence atau apapun istilahnya. Sampai jumpa di post berikutnya! 

Benefit, Make Up For Ever (MUFE), Makeup

Primer Battle : Benefit Porefessional vs MUFE Smoothing Primer [BAHASA]

Mencoba untuk produktif tengah malam sebelum besok kembali dinas pagi dan berharap tulisan ini bisa diselesaikan sebelum jam 12 malam. Malam ini aku mau membahas tentang primer. Sebelum kita masuk ke topik bahasan, sebaiknya dijelaskan dulu apa itu primer dan fungsi serta pemilihannya secara garis besar.

Sedikit mengingatkan bahwa saya bukan seorang make up artist dan tentunya juga bukan make up expert. Semua tulisan disini berdasarkan pengetahuan saya secara umum.

img_2139
Continue reading “Primer Battle : Benefit Porefessional vs MUFE Smoothing Primer [BAHASA]”

Haircare, OGX, Shampoo

My Holy Grail Shampoo and Conditioner : OGX Biotin & Collagen

Satu bulan lebih vakum dari blog. Banyak sebetulnya yang mau ditulis tapi waktunya bener-bener susah karena sekarang udah masuk jadwal di RS jadi ga selonggar di puskesmas (elah, nes. kamu di puskesmas aja nulis cuma sebulan sekali).

Mumpung ada waku, saya pingin nulis tentang shampoo dan conditioner yang menurutku penyelamat banget di saat rambutku bertingkah kemarin.

Jadi gini kronologinya. Waktu itu saya sempet potong rambut di salah satu salon di Pekanbaru yang jadi store resmi juga buat shampoo high end yang biasa ditemukan di Jakarta, kebetulan di Pekanbaru salon resminya cuma satu itu. Saat itu tujuan saya hanya untuk potong rambut tapi ternyata kalau di salon ini wajib cek kodisi kulit kepala terlebih dahulu. Didapatkanlah hasilnya kulit kepala saya ketombe + sensitif. Lalu direkomendasikanlah shampoo high end tersebut. Nah saya seumur-umur ga pernah pake shampoo mahal. Dari kuliah saya stick dengan Herbal Essence, masalahnya, Herbal Essence susah banget ditemukan di Pekanbaru dan mungkin karena udah kelamaan juga pake Herbal Essence, kulit kepala saya juga mungkin berubah kondisinya atau air Pekanbaru beda kondisinya dengan air di tanah Jawa, akhirnya saya merasa rambut saya belakangan lebih gampang berminyak dan berketombe, untuk masalah rontok, rambut saya rontok dalam batas normal.

Harga shampoo high end tersebut sekitar 375.000 untuk 250ml dan 300 sekian untuk conditionernya. Awal saya pakai yang saya rasakan rambut saya jadi keset dan sedikit rontok, ketombe tidak berkurang, conditioner mereka yang mahal itu juga ga banyak memberikan bantuan. Sempat repurchase botol kedua sampe akhirnya ngerasa kok rambut saya makin tipis dan kering, ga kayak dulu waktu kata mereka “ketombean”, rasanya rambut saya rasanya ga gampang rontok, ketombe itu pun kalau dicari cari banget baru ditemukan. Dan parahnya, rambut saya juga jadi sangat susah disisir, frustasi banget sampai akhirnya ga pernah saya sisir karena nyangkut dan melilit dimana mana.

Akhirnya saat botol kedua habis, saya memutuskan ga akan repurchase lagi dan kembali ke Herbal Essence. Tapi beneran ternyata Herbal Essence saya yang dulu itu botol terakhir yang bisa ditemukan di Pekanbaru, akhirnya saya beli shampoo apa aja yang bisa ditemukan di supermarket.

Dan saat itulah kegilaan semakin bertambah. Rambut saya langsung rontok PARAH banget saat shampoo high end tersebut diganti. Setiap keramas, sejumput ketarik. Setiap ikat rambut atau sisiran, makin banyak. Makin pusing dong. Dan ga mau kembali ke shampoo high end tersebut karena bukannya selesaikan masalah malah nambah. Yang awalnya cuma ketombe kalau dicari – cari sama berminyak dalam 24 jam kenapa sekarang jadi ketombe + minyak + rambut kering + rontok +ga bisa disisir?

Akhirnya saya browsing. Terus saya sempat melihat alah satu selebgram yang saya follow di instagram promosi haircare kesukaan dia, yaitu OGX yang versi moroccan oil. Hmmm di situlah saya mulai penasaran dengan OGX. Lalu saya ingat-ingat lagi rasanya shampoo ini mudah ditemukan di Jakarta. Tapi kemana mau dicari kalau di Pekanbaru? Nah di OL Shop yang direkomendasikan si selebgram pun, varian OGX yang ditawarkan terbatas sekali. Akhirnya saya nunda untuk beli OGX ini sampai entah kapan mau ke Jakarta. Tapi yang namanya rezeki memang ga ada yang tau ya, waktu itu mampir ke Century Pekanbaru di Jalan Sudirman, banyak varian OGX, langsung lah saya beli yang varian Biotin + Collagen.

Yuk kita mulai.

Continue reading “My Holy Grail Shampoo and Conditioner : OGX Biotin & Collagen”

Chanel, Makeup

Chanel CC Cream

Di sore hari, di sela-sela menjaga gedung dan sudah mulai bosan akhirnya memutuskan untuk menulis lagi, kali ini mengenai kosmetik, salah satu yang sering saya pakai meski ga tiap hari.

Chanel CC Cream SPF 50

Jujur saja, awalnya mencoba review CC Cream ini saya ragu karena review yang beragam. Review dari orang orang terdekat saya produk ini sangat bagus, bahkan seorang teman pria saya menggunakannya untuk harian karena suka efek freshnya (ya, cowok juga mau kali kelihatan fresh). Sayangnya, saya masih maju mundur karena kebanyakan beauty influencer Indonesia menilai CC Cream Chanel tidak cocok untuk area Indonesia yang panas dan lembab. Akhirnya setelah maju mundur, saya memutuskan mencoba CC cream ini, tentunya setelah membaca banyak refrensi mulai dari Bahasa Inggris- Bahasa Indonesia.

Jadi CC Cream Chanel yang saya pakai adalah CC Cream yang sudah direformulasi, yang awalnya SPF 30 sekarang jadi SPF 50. Dan menurut saya yang sudah direformulasi ini bagus banget, saya sama sekali ga menemukan keluhan.

Oke, mungkin untuk awalnya banyak yang bingung. Apa sih perbedaan CC Cream dan BB Cream?

Kalau menurut saya pribadi yang awam banget soal makeup secara keseluruhan sih, BB dan CC Cream ini cuma istilah marketing aja. Tapi mari kita lihat penjelasannya.

Blemish Balm (BB) Cream ini awalnya populer banget di Korea yang ditujukan untuk kulit yang bermasalah, bukan karena akan memperbaiki kondisi jerawat tapi karena coveragenya cukup tinggi sehingga bisa menutupi kekurangan kulit kita. Sama seperti alas bedak pada umumnya tapi ada kandungan SPF dan antioksidan. Nah tapi ada perbedaan antara BB Cream produksi brand-brand Asia dan brand Eropa. Dimana brand Asia tekstur BB Creamnya lebih kental dan (menurut pengalaman saya) sulit diratakan sedangkan kalau BB Cream Eropa teksturnya lebih ringan, mirip tinted moisturizer.

Color Correcting (CC) Cream jadi ini sesuai namanya, ditujukan buat kulit yang masalahnya adalah warna kulit tidak rata. Misalnya merah-merah atau kehitaman bekas jerawat. Karena tujuannya hanya untuk menyamakan warna kulit, teksturnya lebih ringan dari BB Cream.

Teorinya sih begitu. Tapi kenyataannya banyak banget kok foundation yang bertekstur jauuuuh lebih ringan daripada CC dan BB Cream. Sehingga bagi saya kesimpulannya ini hanya istilah marketing.

Oke, Yuk kita mulai membahas CC Cream Chanel

img_0333 Continue reading “Chanel CC Cream”